William Chittick : Ilmu kosmos ilmu jiwa : Pentingnya kosmologi Islam dalam dunia modern

Science_of_the_Cosmos_Science_of_the_SoulWilliam Chittick : Ilmu kosmos ilmu jiwa : Pentingnya kosmologi Islam dalam dunia modern
Oxford: Oneworld Publications, 2007,
Reviewed by ANDI HERAWATI
Sekolah Tinggi Filsafat Islam(STFI) Jakarta

Berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah mungkin untuk menjadi seorang ilmuwan dan seorang Muslim sekaligus menjelaskan dan memahami kosmos dan jiwa sebagaimana yang dijelaskan oleh al-Qur’an dan sunnah ? (h.9); Apa sebenarnya batas potensi jiwa? (h.112); Dapatkah kita tahu makna dari alam semesta dan objek apapun di dalamnya tanpa mengetahui al-aqq (the Real)? (h.129). Jika pertanyaan-pertanyaan ini yang muncul dalam pikiran kita, maka karya William Chittick ini layak dibaca.

Sebuah buku yang pendek namun padat yang ditulis oleh William Chittick, seorang pakar islam dari Barat yang telah menghabiskan empat dasawarsa dalam studi Islam, khususnya tradisi filsafat dan sufi, dapat dikatakan mampu menghidupkan kembali studi kontemplatif terhadap intelektual islam saat ini, yang memungkinkan para penasehat intelektualnya (Rumi, Ibn ‘Arabi, Mulla Sadra, Ibnu Sina dan al-Ghazali) berbicara tentang wawasan mereka yang relevan dengan konteks modern, terutama peran yang dimainkan oleh ilmu pengetahuan dalam Zeitgeist kontemporer (viii). Latar belakang intelektual dari apa yang telah ia tuliskan adalah menghilangnya institusi pendidikan tradisional yang cenderung mengarahkan muridnya untuk mendedikasikan hidup mereka bagi pencarian pengetahuan dan kebajikan. Chittick sendiri memilih judul “Ilmu Kosmos, Ilmu Jiwa”, justru menyoroti ilmu pengetahuan dan pada saat yang sama membawa istilah “jiwa”, sebagai pusat dari tradisi filsafat (ix).

Di jantung buku ini terdiri dari tujuh bab, semua kecuali satu dari yang awalnya menjadi premis dasar dari Chittick adalah apa yang disepakati oleh pembelajaran intelektual dan pembelajaran transmisi, yakni Allah adalah satu, dan Dia adalah asal dari segala sesuatu. Inilah Tauhid. Yang menjadi pengamatan utamanya adalah bahwa tradisi intelektual saat ini tidak sama dengan tradisi intelektual terdahulu, dan ini memberi sesuatu untuk ditawarkan. (h. 8-9). Hal ini dibandingkan dengan dunia Islam pramodern, ketika pemikir besar dan kaum intelek menghabiskan seluruh hidup mereka mencari pengetahuan yang lebih dalam tentang Tuhan, alam semesta dan jiwa. Dan pencarian itu menjadi tugas yang tak pernah berakhir. Jadi, untuk mendapatkan kekayaan dari warisan intelektual kita harus mempersiapkan diri untuk memahami, dan olehnya menuntut sebuah upaya pencarian dan pelatihan. Seseorang tidak dapat menerima tauhid begitu saja yang berdasarkan imitasi, sebab Iman sejati tidak pernah menjadi keyakinan buta, melainkan komitmen dengan apa yang benar-benar seseorang ketahui adalah benar. Melalui karyanya, Chittick menyarankan bahwa untuk pulih atau bangkit dari apa yang ia sebut sebagai “kebodohan ganda” adalah mengakui bahwa Anda tidak tahu, sehingga Anda dapat beranjak “mencari ilmu”.(h.19)

Pada empat Bab pertama, seseorang dapat menemukan diagnosa yang tajam dan jelas tentang kaum Muslim kontemporer jika ingin muncul sebagai cendekiawan yang obyektif. Chittick pun demikian dan bertanya-tanya: apa yang salah? Tradisi intelektual sangat penting untuk kelangsungan hidup agama, karena sesorang tidak bisa memikirkan Islam tanpa secara bersamaan memahami perintah al-Qur’an yang menuntut seorang Muslim untuk selalu berpikir, merenung, dan merenungkan. Tugas pertamanya menurut Chittick adalah untuk mengidentifikasi dua mode mengetahui dalam tradisi Islam, sebagai “transmisi” (taqlid) dan “intelektual” (taqīq).

Jika yang pertama bersifat diiturunkan dari generasi ke generasi, maka yang terakhir adalah dipelajari dengan melatih pikiran dan membersihkan hati. Chittick berpendapat bahwa mode taqlid sering disalah mengertikan oleh Muslim dan non-Muslim. Baginya, ilmu pengetahuan modern memang dibangun atas konsensus, bukan pengetahuan intelektual. (h.21). Selain itu, ia berpendapat bahwa kebenaran pembelajaran yang ditransmisikan tidak bergantung pada pembuktian dengan dirinya (self evident), tetapi lebih pada otoritas nabinya dan para keberadaan penerusnya. Dan bagi ilmuwan modern yang membuat penemuan baru, yang telah “membenarkan” dan “merealisasikan” ilmu untuk dirinya sendiri, tidak akan disebut realisasi (taqīq) oleh para intelektual muslim karena tidak cukup meluas masuk ke kedalaman jiwa dan ruh untuk mengenali sifat sesungguhnya dari sesuatu. Pengetahuan intelektual, justru adalah kunci tradisi intelektual Islam. Hal ini diperoleh oleh subjek yang mengetahui secara langsung.

Meskipun mungkin dalam pencariannya memerlukan guru, tetap pengetahuan ini akhirnya tidak tergantung pada otoritas guru untuk verifikasi dan keberadaan eksistensinya, melainkan berada di hati dan pikiran orang yang berpengetahuan atau pencari itu sendiri. Ini adalah temuan, bukan untuk mengumpulkan informasi atau apa yang kita sebut “fakta”. Sebab semakin banyak fakta yang mereka ketahui, semakin sedikit signifikansi yang mereka dapatkan dari fakta tersebut dan juga hakekat diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Tentang hal ini, Chittick mengutip ungkapan Ibn Yaqzan (c.1775) :

“Pencarian ilmu yang diwajibkan oleh Nabi kepada setiap mukmin, bukannya pencarian informasi atau sekedar “hidup yang lebih baik”. Tetapi, pencarian makna dan pemahaman Qur’an dan hadis, yang melalui pemahaman tersebut merupakan pengetahuan diri, kesadaran diri dan mengenal tanda-tanda Tuhan di ufuk (alam eksternal) dan dalam diri. Hal ini merupakan pencarian hikmah dan penguasaan diri, bukannya kontrol dan manipulasi atas dunia dan masyarakat” (h.30)

          Adapun Realisasi yang dimaksud memiliki empat domain: Metafisika (Allah sebagai realitas awal dan akhir), kosmologi (penampilan dan peniadaan alam semesta), psikologi (apa artinya menjadi manusia) dan etika (kebijaksanaan praktis dan hubungan antar individu). Dan pusat dari domain tersebut adalah diri (nafs) atau jiwa. Dengan demikian, pengetahuan yang ditransmisikan harus berjalan seiring dengan pengetahuan intelektual. Dalam pengertian ini, intelek adalah jiwa yang telah mengetahui dan menyadari potensi penuhnya (h.29). Chittick juga menyebutkan 10 poin yang dapat membantu kita memahami apa yang coba di verifikasi, direalisasikan oleh para intelektual Muslim pramodern (h.27).

          Islam dapat didefinisikan dalam satu kata: Tauhid. Dan karena tauhid pada dasarnya adalah pemikiran, banyak buku yang menjadikan konsep ini sangat penting. Tidak diragukan lagi, mengapa Chittick bersikeras terhadap pentingnya rehabilitasi pemikiran, karena ini berarti bahwa tradisi intelektual Islam sedang menderita penyakit serius (h.42). Sebuah review singkat tidak bisa memberikan keadilan untuk argumen penulis yang disajikan dalam tujuh bab. Tapi untuk meringkas, bahwa empat bab pertama juga mendefinisikan apa bentuk pengetahuan “intelektual” yang ada dalam Islam, terutama dalam kaitannya dengan ilmu-ilmu yang ditransmisikan dalam teks-teks filosofis dan Sufi.

          Karya ini diperkaya oleh beberapa ulama terkemuka seperti Seyyed Hossein Nasr, yang berbagi perhatian dengan penulis mengenai hilangnya pandangan dunia Islam tradisional, Allama Iqbal, Muhammad Arkoun dan penyair sufi, Rumi. Chittick mengutip penyair besar Persia, yang dia anggap sebagai guru sejati dari tradisi intelektual, mengingatkan kita pada keutamaan pikiran:

Saudaraku, kamu adalah pikiran itu.
Sebagian dari kamu hanyalah tulang dan serat.
Jika mawar adalah pikiran kamu, maka kamu adalah kebun mawar,
jika duri, maka kamu adalah bahan bakar tungku.
Jika air mawar, kamu akan diusapkan pada leher,
jika urin, maka kamu akan dibuang ke pembuangan.

 Melalui pikiran, kemudian, berkesesuaian dengan roh ilahi yang terletak pada inti kesadaran manusia. Ini adalah untuk memahami segala sesuatu sebagaimana adanya, senada dengan ungkapan hadis: Allahumma ‘ārinil asyā’a kama hiya (Tuhan, tunjukkan aku segala sesuatu sebagaimana adanya). Seperti disebutkan sebelumnya tentang empat domain utama dari intelektual Muslim, mereka terfokus pada kosmologi menyerupai apa yang kita sebut saat ini sebagai “ilmu pengetahuan” (science). Di sini, semakin seseorang memberi perhatian pada dunia luar -domain kosmologi- ia akan memperoleh wawasan lebih tentang dunia internal, domain psikologi spiritual. Keduanya dipelajari untuk memahami jiwa manusia. Tapi, apa yang menjadi jelas dalam dua alam ini adalah keterkaitannya dengan pencarian intelektual. Sebuah kritik terhadap dogmatisme dan ideologi adalah langkah yang diperlukan untuk memulihkan pemahaman yang tepat tentang sifat manusia, dan ini beralasan.

Tiga pasal terakhir memberi perhatian lebih pada ajaran praktis yang sebenarnya dari tradisi intelektual, berfokus pada relevansinya dengan pertanyaan kontemporer dan makna dari ilmu pengetahuan. Bersama dengan tokoh Muslim terkenal masa lalu yang disebutkan di atas, Chittick mengkritisi taqlīd dengan mentalitas dogmatis dalam mempertanyakan sebuah pemahaman, sembari memberikan keutamaan peran tahqīq, yang hanya melaluinya tauhid dapat dipahami. Baginya, satu-satunya cara untuk memahami sesuatu adalah menemukannya melalui diri sendiri, meskipun seseorang memerlukan bantuan orang-orang yang sudah tahu. Selain itu, bagi Chittick, mengapa saintisme pada dasarnya palsu adalah karena sarat dengan praduganya, meniadakan tauhid dan menegaskan takthīr (perbedaan). Pada karyanya yang lain, Chittick mensyinalir pernyataan serupa bahwa jika manusia mulai mengklaim bahwa “ilmu ilmiah” (scientific knowledge) adalah yang paling sah, maka kita tidak lagi berhubungan dengan ilmu, melainkan hanya berhubungan dengan saintisme.

Jika tauhid menegaskan Keesaan Tuhan, sebaliknya takhtīr menegaskan pluralitas. Takthīr tanpa tauhid tidak bisa memberikan visi penyatuan. Ini akan menyangkal secara implisit bahwa keberadaan memiliki tujuan, sehingga ia juga menolak gagasan bahwa aspirasi manusia untuk mencapai perbaikan moral dan etika dan menjadi sempurna secara intelektual dan spiritual yang memiliki landasan dalam realitas objektif (h.46-47).

Hasil bersihnya adalah penyebaran pengetahuan manusia, pertumbuhan disiplin ilmiah dan akademik, multiplisitas tujuan manusia, ketidaksepakatan yang berlangsung terus menerus, perselisihan, disintegrasi dan korupsi. Meskipun kaum muslim tidak melihat takthīr sebagai buruk semata, namun manusia harus bisa keluar dari kebiasaan tersebut, menuju tauhid yang damai, imbang, harmonis dan damai di dunia.

Akibatnya, semakin kita menekankan takthīr, semakin sedikit peran kita sebagai manusia yang akan muncul untuk bermain dalam kosmos. Sebagai catatan Chittick, para ilmuwan mengasumsikan kesatuan alam yang paralel dengan makna spiritual dari tauhid, namun perbedaan utama adalah bahwa metode ilmiah tidak menerima realisasi diri oleh seorang individu sebagai bukti yang cukup untuk realitas fenomena.

Sebaliknya, jika kita menempatkan keutamaan pada tauhid sebagai penjelasan dari realitas, maka karya ini akan menjadi bacaan yang menyegarkan, dan juga menjawab pertanyaan yang disebutkan sebelumnya bahwa dalam tradisi intelektual, tidak ada batas bagi potensi jiwa, karena tidak ada keberadaan yang tidak diketahui oleh jiwa. Para filsuf berulang kali menyebut jiwa manusia “intelek potensial” (aql bi’l quwwa) atau “intelek hylic” (‘aql hayūlāni). Dan mereka juga menyebut aktualisasi intelek dengan istilah Qur’an “pembebasan” (najāt) atau ‘kebahagiaan’ (sa’ādah). Tu Weiming, seorang filsuf Cina kontemporer mengatakan hal senada, “Pembebasan berarti realisasi penuh dari realitas antropokosmik yang inheren dalam diri kita”. Dengan kata lain, sebagaimana adagium yang sangat terkenal, “mengetahui adalah menjadi”. Oleh karena itu, tujuan dari pembelajaran adalah untuk mengetahui segala sesuatu yang mungkin bisa diketahui. Jika kita tidak mencari pemahaman dengan cara yang benar, maka tujuan akan tetap selamanya tak terjangkau.

 Hanya saat mencapai aktualitas pengetahuan dalam inti terdalam eksistensinya itulah, dapat dikatakan sebagai intelek dalam arti kata yang paling tepat. Secara epistemologis, ini berarti bahwa kedirian manusia yang sejati tidak dapat menjadi obyek pengetahuan yang ditransmisikan, melainkan dengan pengetahuan tanpa perantara atau langsung. Melanjutkan pertanyaan tentang pencarian makna, bahwa makna yang sesungguhnya tidak pernah bisa ditangkap oleh dogma, teori, teorema atau bangunan mental lainnya, tetapi melalui realisasi tauhid bagi diri sendiri dan dalam diri sendiri. Hal ini menunjukkan seberapa kuat Chittick mencoba untuk tetap mengingatkan inti kepercayaan tradisional agama.

(