ToR _2nd Seminar of Pre-Conference THuSI 2018 in STISNU Tangerang

Terms of Reference

The Second Seminar of Pre-Conference THuSI 2018

Akhlaq and Character Education from Islamic Perspective

Jakarta, 10 Juni 2017

Latar Belakang

Selama ini akhlak sering diidentikkan atau diterjemahkan dengan moral Islam atau etika Islam. Moral pada umumnya mengacu pada nilai-nilai tindakan manusia yang patut dipuji dan mesti dilakukan sebagai makhluk rasional dan etis, dan sebaliknya ketiadaan tindakan tersebut dikategorikan sebagai tindakan yang tercela. Contoh yang pertama seperti jujur, amanah (tanggung jawab), berani, sederhana, menghormati sesama, tabah, sabar, dan menolong orang-orang lemah dan yang patut ditolong. Contoh yang kedua seperti berdusta, khianat, pengecut, berfoya-foya, melecehkan orang lain, mudah putus asa, pemarah, dan egois. Sementara etika dimaknai sebagai refleksi rasional terhadap nilai-nilai moral; karenanya ia disebut sebagai filsafat moral.

Dalam studi filsafat, etika merupakan saah satu cabang filsafat praktis (aksiologi) yang berhubungan dengan tindakan baik-buruk. Mengacu pada kategorisasi Aristoteles, etika adalah filsafat praktis yang berkaitan dengan individu sementara ekonomi dan politik masing-masing termasuk wilayah domestik (keluarga) dan sosial. Sementara metafisika, (filsafat ketuhanan), matematika, dan kosmologi termasuk rumpun filsafat teoritis.

Dengan demikian, etika atau moral hanya berhubungan dengan sebagian kecil tindakan dan kehidupan manusia, yaitu hal-hal yang terkait dengan pertanyaan pokok tindakan-tindakan  apa yang harus dilakukan dan tindakan-tindakan apa yang harus dicegah. Nah, apakah wilayah akhlaq sama dengan dengan moral? Bukankah akhlaq mencakup semua urusan kehidupan manusia, teoritis sekaligus praktis, individual sekaligus sosial?

Di lapangan dunia pendidikan Islam kita sering temukan studi Aqidah Akhlak yang bercorak teologi-skripturalistik. Maksudnya, anak didik dijejali dengan hapalan doktrin-doktrin teologis yang mendesakkan nilai-nilai akhlak sebagai hal yang datang dari luar fitrah kemanusiaan mereka. Agama dan akhlak diperkenalkan sebagai hal yang asing dan karenanya perlu dicangkokkan ke dalam setiap jiwa anak didik, entah dengan cara drilling, hapalan atau stimulus-response approach. Kalau boleh menggunakan istilah filsafat, paradigma yang mendasari studi Aqidah Akhlak sebagian anak-anak didik kita adalah pandangan empirisme, behaviorisme. Anak didik dipersepsi sebagai gelas kosong yang tak punya potensi keluhuran nilai-nilai kemanusiaan dan karena itu harus diisi dan didoktrin dengan daftar perintah dan larangan. Akibatnya, studi akhlak diperlakukan seperti studi hukum atau fiqh.

Ini sungguh aneh, bagaimana studi yang merupakan tujuan pokok diutusnya Nabi Suci SAW (innamā bu’itstu li utammima makārim al-akhlāq; Aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak) mengalami degradasi posisi sehingga hanya menjadi bagian studi fiqh? Bukankah fiqh atau hukum lahir untuk mengawal nilai-nilai akhlak? Kenapa menjadi terbalik keadaannya?

Bagaimana pula dengan makna hadits Qudsi “Takhalluq bi akhlaqilLah” (Berakhlaqlah dengan akhlaq Allah) ?  Jelas dari hadis ini ditunjukkan bahwa Allah SWT Yang Maha Agung pun berakhlaq. Bagaimana mungkin Allah dikatakan berakhlaq jika makna akhlaq hanya dibatasi sebagai tindakan-tindakan praktis sementara kita tak pernah melihat dan tak akan pernah melihat Allah secara fisik?

Jika disepakati bahwa akar penyebab kegagalan pelajaran Aqidah Akhlak adalah kekeliruan paradigma moral yang dipakai, maka kita perlu mengganti paradigmanya. Paradigma moral yang mendasari studi Aqidah Akhlak selama ini adalah pandangan-dunia yang menempatkan manusia hanya sebagai budak dan bidak atau obyek akhlaq, bukan tuan atau subyek akhlaq.

Apa maksud “subyek akhlaq”? Tak lain adalah sebuah pandangan yang memosisikan manusia sebagai pengada yang secara potensial (fitrah) telah membawa nilai-nilai luhur moral kemanusiaan dan kearifan dalam lubuk jiwanya. Pendidikan akhlaq bukanlah pencangkokan nilai, tapi penyingkapan nilai. Pendidikan akhlaq bukanlah penjejalan daftar perintah larangan, namun penumbuhan kesadaran untuk berperilaku layak dan bertanggung jawab sebagai manusia, makhluk yang berakal budi. Pendidikan akhlaq bukanlah strategi memenangkan pertempuran atas lawan, tetapi penempaan cara berada yang memenangkan kemuliaan jiwa dan spiritual atas hasrat material dan dorongan irasional.

Sebetulnya istilah Aqidah Akhlak sudah sangat benar bahwa akhlak adalah manifestasi akidah. Akidah yang benar teruji atau ditunjukkan oleh akhlak yang baik. Persoalannya, kenapa pelajaran ini tampak tak berhasil mendidik generasi Islam yang berkarakter tangguh dalam moral? Sementara sumber pelajarannya tentu saja Al-Quran dan hadis. Apakah kegagalan ini sebagai efek dari paradigma dan metodologi pendidikan akhlak yang tak sesuai dengan kodrat kemanusiaan anak didik?

Tujuan:

  1. Mengulas pengertian dan ruang kajian akhlaq secara ilmiah dan komprehensif
  2. Membahas praktek dan paradigma pendidikan akhlaq dan karakter
  3. Menelaah faktor-faktor penyebab kegagalan pembentukan akhlaq dan karakter

Pembicara:

  1. Dr. Mohammad Javad Asadi (Direktur Mustafa International University- Indonesia)
  2. Dr. Husain Heriyanto (Ketua IC-THuSI)
  3. Fahmi Irfani, MA. Hum (Researcher at the Center of Study and Development of The Nusantara PSP Nusantara)
  4. H. Aik Iksan Anshori, Lc, MA. Hum (Lectuter of STISNU Nusantara)

 

Moderator:

Ecep Ishak F, MA

Waktu dan Tempat

Hari/ Waktu        : Sabtu, 10 Juni 2017. Jam 13.00 – Selesai

Tempat                : Aula Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari

                                STISNU Tangerang