René Guénon : The essential (Metaphysics, Tradition and the Crisis of Modernity)

The Essential rene GuenonEdited by John Herlihy
Bloomington : World Wisdom (the perennial philosophy series), 2009 ISBN : 9781933316574 ( pbk:alk paper)
Reviewed ANDI HERAWATI
Sekolah Tinggi Filsafat Islam(STFI) Jakarta

 “It is truly strange that people ask for proof concerning
the possibility of a kind of (transcendent) knowledge instead of searching for it and
verifying it for themselves by understanding the work necessary to acquire it.”
René Guénon

 Sesuai dengan judul buku ini, “The Essential René Guénon”, merupakan kumpulan esai penting oleh René Guénon, atau Abdul Wahid Yahya, salah seorang pendiri Mazhab Perenial atau yang lebih dikenal sebagai tradisionalis, bersama Frithjof Schuon (1907-1998), Ananda Kentish Coomaraswamy (1877-1947) dan Titus Burckhardt atau Ibrahim Izz al-Din (1908-1984). Mereka memberikan pengenalan yang baik melalui pemikirannya tentang metafisika, tradisionalisme dan dunia modern. Tugasnya adalah adalah memberi kritik tajam terhadap dunia modern; yakni era ketika rasional, material dan pandangan dunia sekuler ilmu pengetahuan modern mengancam pencarian manusia tradisional dan cita rasa suci atau sakral (sacred sense).

Melalui karya-karyanya, Guénon menarik visi universal yang mengacu pada misteri utama yang terungkap pada awal waktu dan yang terus menghantui malam-malam gelap jiwa modern sementara kecenderungan manusia adalah selalu mencari kebenaran, untuk mencari sesuatu, meskipun mereka mungkin tidak tahu apa sebenarnya yang mereka cari. Apa yang secara naluriah dirasakan kurang bagi manusia saat inilah yang ditawarkan dan dipertahankan oleh Guénon melalui karya-karyanya.

Akan sedikit mengejutkan bagi pembaca yang tidak terlalu mengenal Guénon bahwa ia kerap digolongkan sebagai “Sufi Besar” oleh seorang wali abad 21, Sri Ramana Maharshi. Coomaraswasmy, seorang ahli sejarah seni mengungkapkan bahwa Guénon bukanlah seorang “Orientalis” tetapi lebih sebagai apa yang orang India sebut “guru”. Seyyed Hossein Nasr menulis tentang karya pertama Guénon dalam pernyataannya : “It was like a sudden burst of lightning, an abrupt intrusion into the modern world of a body of knowledge and a perspective utterly alien to the prevalent climate and world view and completely opposed to all that characterizes the modern mentality.”

Titik penting yang perlu dicatat adalah bahwa Guénon tidak mengajukan atau bahkan mencoba untuk membuat teori baru atau baru, juga tidak tertarik pada pentingnya keaslian ide-idenya. Peran dan signifikansi pemikirannya dalam dunia nodern adalah untuk sepenuh hati mencerahkan metafisika universal Tradisi Primordial yang dikenal sebagai filsafat perenial (philosophia perennis). “Kebenaran adalah satu, dan ia sama untuk semua, yang dengan cara apa pun, mengetahuinya”. Dia bermaksud membangun kembali keutamaan tersebut untuk yang hidup di dunia kontemporer yang mencari kebenaran otentik tanpa kompromi yang “sesuai dengan pandangan dunia tradisional” yang dikenal dengan banyak nama yang berbeda. Bertentangan pandangan dunia (weltanschauung) saat ini yang membicarakan tanpa henti tentang “perubahan”, pandangan dunia tradisional melihat seakan-akan dunia hari ini telah menyadari kebangkrutan yang melekat dari waktu- “ketidakseimbangan tidak akan bisa menjadi kondisi kebahagiaan sejati.” “Perubahan” bagi Guénon bukanlah berarti berubah dalam “kemajuan” yang berorientasi masa depan, tetapi berubah menjadi penataan kembali prinsip-prinsip pertama yang mendasari doktrin tradisional dunia spiritualitas. Dalam hal ini, arah perubahan tidak akan maju atau bahkan mundur tapi mengarah pada apa yang berakar pada kekalan (immutable) dan abadi (eternal).

Mungkin ada yang mempertanyakan relevansi metafisika dalam konteks dunia saat ini, dan bagi Guénon, mereka yang mengatakan bahwa membentuk “elit intelektual” untuk melawan krisis berbahaya dari era disintegrasi – era dimana gangguan tumbuh di semua wilayah – adalah cita-cita ideal yang utopis, menunjukkan kebodohan yang ekstrim. Sampai saat ini, krisis besar-besaran yang Guénon rasakan tidak hanya datang dan terus berkembang, tetapi ia telah berdebar ke dalam kekacauan sejak ia pertama kali diidentifikasi dan didiagnosis sebagai “kerabunan intelektual” (intellectual myopia) dari sebuah masa kegelapan Kali Yuga, zaman di mana seluruh bagian dari umat manusia telah menempatkan fantasi sebagai realitas yang tidak dipersoalkan.

Ketika prasangka anti-agama muncul, karena perwakilan agama berangsur-angsur menjadi kurang cerdas dan lebih berpusat pada pertimbangan sentimental, maka sebuah pertanyaan muncul bahwa karena orang-orang menolak Kekristenan, sebagai contoh, akankah mereka dapat menerima kebenaran ketika disajikan dalam istilah Islam tasawuf, yang terkait dekat dengan terminologi Kristen dalam banyak hal? (xix). Inilah yang kemudian mengantar Guénon dekat dengan kearifan tradisional dalam Kristen, Hindu dan Tasawuf. Guénon menelusuri doktrin esoteris sebagai satu-satunya pendekatan yang mampu menjawab permasalahan antara Absolut dan relativitas, dan dalam esoterisme seseorang menemukan doktrin yang sama menuju ke satu tujuan, yang disebut realisasi (tahaqqūq), mokhsa, yoga, nirwana.

Buku ini terdiri dari 4 bagian : The Modern World, the Metaphysical World, the Hindu World and the Traditional World, yang relevan dengan pembaca saat ini yang memiliki pertanyaan tentang sumber dan sifat sejati dari pengetahuan metafisik, peran agama-agama dunia dalam melestarikan doktrin tradisional, dan sarana dan metode realisasi spiritual(xiii), dan bagian pendahuluan diberikan oleh Martin Lings atau Abu Bakr Siraj al-Din ( 1909-2005).

Dunia Modern (Bagian satu) – Mengidentifikasi dunia modern setara dengan Zaman Kegelapan, sesuai dengan prinsip kosmologi Hindu tentang siklus, Manvantara. Bagi Guénon, munculnya kegelapan rohani dunia modern adalah hasil alami dari proses bertahap dimana spiritualitas dan kebenaran yang diembannya ‘telah tersembunyi.’ Siklus perkembangan manusia yang nampak sebagai perubahan cenderung menjadi kejatuhan manusia dan digambarkan sebagai materialisasi progresif. (h.3) Klaim Guénon terhadap dunia modern sampai pada inti dari krisis humanisme yang mengerikan. Manusia telah mereduksi segala sesuatu berpusat pada proporsi manusia, dan humanisme adalah bentuk pertama dari apa yang kemudian menjadi sekularisme (h.13). Sebagaimana ditekankanGuénon, dunia modern tidak memiliki kemungkinan untuk penyesuaian baru karena ia membutuhkan renovasi keseluruhan. Sebagai tradisionalis, Guénon tampaknya tidak menawarkan solusi instan untuk membawa manusia kembali ke eksistensi primordial mereka, melainkan melihatnya sebagai siklus panjang tak berujung, dari satu siklus ke siklus yang lain dapat terjadi hanya dalam kegelapan. (h.14). Selain itu, baginya, urutan dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah pada kenyataannya sama sekali berbeda dan terpisah. Kesatuan telah menjadi banyak tanpa pusat atau tujuan. Roh telah menjadi materi, kualitas direduksi menjadi kuantitas dan penyaksian intelektual menjadi pencarian kognitif untuk sekedar fakta-fakta logis.

Setelah memberikan gambaran tentang kemunduran dunia modern, Guénon (Bagian dua) mengidentifikasi landasan metafisik, terutama yang dapat ditemukan dalam tradisi Hindu, Taoisme, Budha serta esoteris Kristen dan Islam. Metafisika yang benar menurutnya merupakan pengetahuan spiritual yang lebih tinggi tingkatannya yang dianggap sebagai yang paling primordial dan komprehensif dalam tubuh pengetahuan yang dimiliki oleh manusia (h. 75). Mengambil Metafisika Timur sebagai salah satu esai, Guénon menyatakan bahwa metafisika integral dari filsafat perenial sebagaimana dalam kebenaran, metafisika bukanlah Timur atau Barat, tetapi ditemukan dengan utuh di jantung tradisi sapiental yang tidak memandang waktu dan tempat :

In truth, pure metaphysics being essentially above and beyond all form and all contingency is neither Eastern nor Western but universal. It is only the exterior forms in which it is clothed imn order to serve the necessities of exposition, so as to express whatever is expressible, that can be either Eastern or Western; but beneath their diversity there is always and eveywhere a selfsame basis, at least wherever true metaphysics exists, and this for the simple reason that truth is one. ( h. 77)

Meski demikian mengapa Guénon secara spesifik membicarakan tentang metafisika Timur, ia beralasan bahwa situasi intelektual di Barat telah melupakan metafisika, sementara di Timur metafisika masih menjadi mejadi obyek pengetahuan yang efektif. Metafisika dipahami sebagai pengetahuan tentang Universal, meskipun ia menekankan bahwa semakin kita mencoba untuk mendefinisikan metafisika, semakin kita mendapatkan ketidakakuratan. Hal ini karena konsepsi metafisik melalui dengan alasan keuniversalannya tidak pernah bisa benar-benar di ungkapkan secara menyeluruh, tapi itu bukan berarti tidak bisa dipahami. Menyusul langkah Aristoteles dan penerusnya skolastiknya, bahwa kebenaran metafisis dapat dipahami oleh intuisi murni(p.102) melalui Realisasi Metafisik. Menurut Guénon dan tradisionalis lainnya, doktrin sebenarnya bukan hanya teori yang cukup untuk dirinya sendiri, tetapi sebagai pengetahuan yang harus diwujudkan secara efektif; terdiri dari aplikasi yang mencakupi semua mode kehidupan manusia. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa Realisasi tidak hanya sekedar konsepsi, tetapi secara praktis mencakupi semua tingkat realitas. Meskipun ada beberapa lapis tingkatan realitas, mereka sebenarnya kesatuan, atau dalam esoteris Islam disebut sebagai al-wahdat al-wujud.

Studi yang relevan tentang doktrin tradisionalis seperti yang dipromosikan oleh Ananda Coomarawasmy dan Guénon adalah Hinduisme (Bagian ketiga). Pertimbangan untuk membahas tentang Hindu adalah bahwa Hindu meskipun telah terjun ke era modern, pada dasarnya tidak berubah. Ia masih menyimpan tradisi yang hidup dengan kapasitas untuk menghasilkan kesucian. Guénon menyinggung dalam karyanya ini bahwa tradisi Hindu sebagai tradisi spiritual yang paling kuno dan paling lengkap di dunia, merangkul metafisika yang paling mendalam dan eksplisit. Dan penetrasi mendalam pada pembahasan penting tentang Menjadi Manusia dapat dilihat dalam karya ini dengan kutipan dari beberapa sumber tradisi Hindu, seperti Upanishad, Bhagavad-gita dan Mahabharata. “Di kursi Brahma (Brahma-pura)”, artinya, di pusat penting yang baru saja kita bicarakan, “ada teratai kecil, di mana rongga kecil (dahara) nya ditempati oleh Ether (Ākāsha), kita harus mencari Yang Ada di tempat ini, dan kita harus tahu itu (p.172) . “ In this seat of Brahma (Brahma-pura)”, that is to say, in the vital center of which we have just been speaking, “there is a small lotus, a place in which is a small cavity (dahara) occupied by Ether (Ākāsha), we must seek That which is in this place, and we shall know it. (h.172) Purusha direpresentasikan sebagai cahaya pengetahuan yang sempurna dan membuat segala sesuatu menjadi sempurna, karena ada tidak ada sesuatu di sana selain “kehadiran abadi”. (h.177). Ide serupa dapat ditemukan dalam doktrin esoteris Islam yang dinyatakan oleh Syekh Sufi Ibn ‘Arabi: Dia (Allah) sekarang adalah seperti Dia dulu (dari kekekalan) setiap hari dalam keadaan yang Paling Mulia.

Halaman terakhir dari buku ini bahwa dunia tradisional mencakupi bentuk-bentuk agama dan disiplin yang berdasarkan tradisi primordial. Pernyataan Bab terakhir dari buku ini menunjukkan bahwa dunia tradisional terdiri dari berbagai bentuk agama dan disiplin berdasarkan tradisi primordial. Pernyataan utama yang sangat dalam berakar dalam pesan primordial; dipegang oleh mereka yang percaya bahwa ada Prinsip yang berada melampaui agama kepercayan. Dengan indah Guénon menyatakan prinsip ini melalui ritual dan simbol yang ada di dalam tradisi-tradisi, seperti Kabbalah, Sufisme, Taoisme dan Confusionisme. Meskipun sulit untuk menemukan jembatan antara setiap artikel yang terdapat dalam buku ini, Guénon mengundang kita berpaling kepada ajaran oriental, yang percaya bahwa di Timurlah berbagai tradisi sapiental lebih utuh.

Kekuatan karya Guénon ini terletak pada keluasan ide dan relevansi lintas-tradisionalnya. Tidak diragukan lagi jika karya ini disebut sebagai The Essential, karena menyediakan artikulasi informatif konsep sentral dari tradisionalis, atau ahli esoteris, meskipun bukan pekerjaan mudah untuk memahami buku ini, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan ide-ide dan prinsip metafisika.“The Essential Rene Gueonon” menyatukan spektrum yang luas dan mencerahkan dari pandangan-pandangan Guénon dalam satu volume tidak seperti antologi lain, yang bisa sangat baik merajut kembali inti kolektif kebijaksanaan sapiental. Dan antologi ini akan dapat memberikan obat pencegah “miopa intelektual” untuk menegaskan kembali sophia perennis: multiplisitas jalan yang mengarah ke tujuan yang satu”. Sebagai penutup, meskipun krisis sekarang ini tampil terselubung dan terkontekstualkan dalam terminologi economis, Guénon mengkonfirmasi bahwa ia lebih merupakan perpanjangan dari yang era Kali Yuga yang sama- dapat dikatakan bahwa akhir dunia tidak pernah ada dan tidak pernah bisa menjadi apa-apa melainkan berakhirnya ilusi.