Press Release IC-THuSI 2016

International Conference – Thoughts on Human Sciences in Islam (IC-THuSI)

16 November 2016 di  Gedung DPR/MPR RI Nusantara V, Senayan, Jakarta Selatan

17 November 2016 di BPPT II Audtorium, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat

Membincangkan Manusia sebagai Strategi Deradikalisasi Pemahaman Agama

Tatkala kebeningan dimangsa oleh warna, Musa berselisih dengan Musa

(Rumi)

 

Di satu sisi, ruang imajinasi publik/umat sudah dijejali oleh penanda (signifier) dan ikon-ikon keagamaan yang dangkal, cetek, dan penuh amarah murka tanpa visi kemanusiaan sedikitpun, dan di lain sisi publik pun sudah terlalu sering mendengar lagu dan khutbah indah tentang Islam bahwa “Islam adalah agama yang memuliakan manusia”, bahwa “Islam adalah rahmatan lil’alamin”, dan seterusnya.  Akan tetapi, kedua sisi ini kerapkali sama-sama bermain dalam dunia penanda yang miskin petanda (signified) sehingga lebih banyak berhenti dalam jargon dan simbol tanpa menggali makna.

Persepsi yang pertama telah berhasil memproduksi sementara generasi muda Islam yang mengidap penyakit TBC postmodern, yaitu Takfiri, Bodoh, Culas (pemahaman keagamaan yang enteng sekali mengkafirkan kelompok lain yang berbeda hanya semata karena kebodohan dan didorong oleh keculasan).  Takfiri, Bodoh dan Culas masing-masing merupakan dimensi teologis, epistemologis, dan aksiologis. Takfiri merupakan pandangan dan sikap ekstrimisme yang menuhankan pemahaman diri sendiri/kelompok. Bodoh merupakan kualitas jiwa yang menolak penggunaan nalar sehat dan argumen rasional. Culas adalah perilaku yang menghalalkan segala cara “demi tujuan dakwah” termasuk kebohongan, fitnah, dan hasutan adu domba. Ketiga elemen TBC ini benar-benar telah memporakparandakan umat centang perenang dalam keterpurukan moral, sosial, intelektual, spiritual, dan keberadaban.

Adapun persepsi kedua adalah antitesis dari pemahaman agama TBC posmo, yang tentu saja dalam pandangan pendukung, lebih tepatnya disebut sebagai tesis asli ajaran Islam itu sendiri. Justru pemahaman agama TBC lah yang sesungguhnya antitesis atau bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Kita sangat bersyukur bahwa masih banyak umat, dengan bimbingan ulama yang berakar pada tradisi Islam dan intelektual Muslim yang saleh dan visioner, yang meyakini dan menyuarakan bahwa Islam merupakan agama yang dihadirkan untuk penyempurnaan proses menjadi manusia; bahwa Islam lahir untuk kemanusiaan; Islam adalah peradaban.

Namun, rasa syukur ini mestinya mendorong hati dan nalar kita bekerja bagaimana membangun INFRASTRUKTUR PEMAHAMAN AGAMA ISLAM-HUMANIS tersebut secara sungguh-sungguh, yakni dikerjakan dengan komitmen tinggi secara cerdas dan ilmiah melalui pelbagai aktivitas keilmuan dan riset. Dengan kata lain, pemahaman Islam yang kita yakini sebagai metode penyempurnaan manusia secara moral intelektul dan spiritual ini, harus ditegakkan dengan kerangka kerja epistemologis dan metodologis sedemikian rupa sehingga ia menjadi “air” bagi umat yang haus, “pangan” bagi umat yang lapar, “energi” bagi umat yang hendak bekerja, “jalan” bagi umat yang bergerak”, “transportasi” bagi umat yang berpindah, “irigasi” bagi umat yang bertani, dan “rumah” bagi umat yang hendak istirahat. Sayangnya, seperti pembangunan nasional kita sejak Orde Baru yang gegap gempita dalam hirup pikuk pembangunan suprastruktur (mall, kendaraan, impor barang-barang konsumtif dan mewah) tetapi amburadul dalam pembangunan infrastruktur (air, listrik, jalan, rumah, irigasi, transportasi publik), demikian pula praksis keagamaan Islam di Indonesia pada umumnya, yang hingar bingar dalam khutbah di masjid atau heboh tausiyah di media massa, cetak dan elektronik, tetapi teramat sepi dalam aktivitas keilmuan dan spiritualitas yang mendayagunakan nalar dan nurani secara sungguh-sungguh.

Salah satu pintu gerbang membangun “infrastruktur pemahaman Islam-humanis-transenden” itu adalah dengan memasukkan studi tentang manusia sebagai bagian integral dari studi Islam. Maksudnya, pengenalan diri sebagai manusia dengan segenap karakteristiknya harus dipandang sebagai ajaran esensial Islam, bukan hanya atribut aksidental atau tambahan pelengkap seperti yang terjadi selama ini hampir di seluruh dunia Islam. Mereka yang dijuluki ahli agama umumnya hanya dikaitkan keahlian dalam fiqh (hukum Islam) atau kalam (teologi) atau hapal Al-Qur’an atau ahli hadis atau cakap berbahasa Arab atau berjubah dan pelihara jenggot. Sebaliknya, hampir tidak ada tokoh yang mendalam pemahamannya tentang jati diri manusia atau pegiat kemanusiaan yang sungguh-sungguh (yang otentik) yang dikategorikan sebagai “seorang yang agamawan”.

Peradaban Islam sesungguhnya memiliki tradisi yang kuat dan kaya dalam studi kemanusiaan, yaitu melalui filsafat (hikmah) dan tasawwuf (‘irfan). Dalam studi filsafat dan ‘irfan lah kita temukan karya-karya yang membahas manusia secara mendalam dan menukik tajam ke akar eksistensi dan esensi manusia itu sendiri. Ibn Sina mendefinisikan filsafat sebagai jalan penyempurnaan jiwa manusia (takamul al-nafs). Ibn al-‘Arabi dan al-Jilli mengemukakan doktrin “manusia sempurna” (insan kamil); ada pula Jalaluddin Rumi yang banyak berbicara tentang cinta dan menjuluki manusia tidak saja sebagai mikrokosmos tetapi bahkan makrokosmos.

Nah, dalam konteks dan latar belakang yang digambarkan di muka itulah sebuah pertemuan sarjana dunia yang berminat dengan studi manusia dalam perspektif Islam digelar; itulah IC-THuSI, singkatan dari International Conference – Thoughts on Human Sciences in Islam. Tahun 2016 ini adalah konferensi yang ketiga setelah sukses pada dua konferensi sebelumnya tahun 2014 dan 2015 dengan melibatkan menghadirkan 70-an sarjana dari 12 negara.  Pertemuan ilmiah ini adalah salah satu medium untuk mendorong para sarjana Muslim (pengkaji filsafat, ‘irfan, studi Islam, sosiologi, psikologi, antropologi, politik, ekonomi) untuk melakukan penelitian, permenungan, dan penelitian lanjutan lagi dalam mengembangkan ilmu-ilmu manusia (sosial humaniora) yang lebih sesuai dengan realitas kemanusiaan (fitrah) dan sejalan dengan dimensi transendensi dan keruhanian Islam, yang pada gilirannya lebih mampu menjawab permasalahan kemanusiaan hari ini yang amat kompleks dan multidimensional.

            Sejalan dengan tiga asas yang menjadi infrastruktur pengembangan ilmu-ilmu manusia  (sosial-humaniora) yang diluncurkan oleh IC-THuSI, yaitu asas ketuhanan (spiritualitas), asas kemanusiaan, dan asas keberadaban, konferensi internasional ketiga tahun 2016 ini digelar dengan visi membangun paham Islam-humanis-transenden agar tercipta kondisi seperti yang ditulis oleh Professor Tariq Ramadan dalam pesannya, “Konferensi (IC-THuSI) ini adalah sebuah upaya yang luar biasa dan kita perlu mendukungnya secara spiritual dan intelektual sebagai langkah ke depan bagi dunia Muslim untuk kembali menjadi sebuah kontribusi positif kepada dunia”.

 

Dr. Husain Heriyanto

Ketua IC-THuSI