IC-THuSI untuk Budi Pekerti; Budi Pekerti yes, Aqidah Akhlak no ?

Refleksi Aktual Menjelang Konferensi THuSI 18-19 Nov 2015

IC-THuSI untuk Budi Pekerti; Budi Pekerti yes, Aqidah Akhlak no ?

Husain Heriyanto

Ketua IC-THuSI

Sebuah lubang hitam praksis keagamaan umat Islam kontemporer menuntut penjelasan:  Mengapa agama yang mengkhutbahkan kebaikan dan kesucian melahirkan sebagian pengikutnya yang gemar menebar kebencian, permusuhan, kejumudan, dan keburukan perilaku yang memuakkan?

Jawabannya adalah umat Islam tidak dididik dengan akhlak dan budi pekerti yang sejalan dengan fitrah kemanusiaan.

Tentu saja ada namanya pelajaran akhlak. Di setiap jenjang sekolah mulai dari TK hingga SMU bahkan universitaspara siswa diajarkan pendidikan akhlak. Terlebih lagi pesantren atau madrasah diperkenalkan bidang studi “Aqidah Akhlak”.  Saya – yang dididik oleh sekolah biasa– dulu sempat iri dan sekaligus kagum ketika mencermati kurikulum madrasah, pesantren atau sekolah-sekolah bernapaskan Islam yang banyak mengajarkan pelajaran akhlak yang terkait dengan studi aqidah. Tapi, sekarang saya justru bersyukur bisa belajar di sekolah negeri  yang dulu mengajarkan BUDI PEKERTI, dan bukan AQIDAH AKHLAK.

Kembali ke pertanyaan, mengapa begitu mudahnya sementara umat Islam bahkan sebagian pemimpin dan tokohnya terperosok ke dalam sikap-sikap amoral dan mentalitas anti-kemanusiaan? Ada apa dengan pelajaran Aqidah Akhlak yang gagal melahirkan generasi yang jujur, bertanggungjawab, penuh kasih sesama, dan mendambakan kearifan?

Jawabnya adalah paradigma yang mendasari studi Aqidah Akhlak itu bercorak teologi-skripturalistik. Maksudnya, anak didik dijejali dengan hapalan doktrin-doktrin teologis yang mendesakkan nilai-nilai akhlak sebagai hal yang datang dari luar fitrah kemanusiaan mereka. Agama dan akhlak diperkenalkan sebagai hal yang asing dan karenanya perlu dicangkokkan ke dalam setiap jiwa anak didik, entah dengan cara drilling, hapalan atau stimulus-response approach. Kalau boleh menggunakan istilah filsafat, paradigma yang mendasari studi Aqidah Akhlak sebagian anak-anak didik kita adalah pandangan empirisme, behaviorisme. Anak didik dipersepsi sebagai gelas kosong yang tak punya potensi keluhuran nilai-nilai kemanusiaan dan karena itu harus diisi dan didoktrin dengan daftar perintah dan larangan. Akibatnya, studi akhlak diperlakukan seperti studi hukum atau fiqh.

Ini benar-benar aneh, bagaimana studi yang merupakan tujuan pokok diutusnya Nabi Suci SAW (innamā bu’itstu li utammima makārim al-akhlāq; Aku ini diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak) mengalami degradasi posisi sehingga hanya menjadi bagian studi fiqh? Bukankah fiqh atau hukum lahir untuk mengawal nilai-nilai akhlak? Kenapa menjadi terbalik keadaannya?

Lalu, apa solusinya?

Solusi dicari pada akar penyebabnya, tentu.  Jika akar penyebab kegagalan pelajaranAqidah Akhlak adalah kekeliruan paradigma moral yang dipakai, maka kita perlu mengganti paradigmanya. Paradigma moral yang mendasari studi Aqidah Akhlakselama ini adalah pandangan-dunia yang menempatkan manusia hanya sebagai budak dan bidak atau obyek moral, bukan tuan atau subyek moral.

Apa maksud “subyek moral”? Tak lain adalah sebuah pandangan yang memosisikan manusia sebagai pengada yang secara potensial (fitrah) telah membawa nilai-nilai luhur moral kemanusiaan dan kearifan dalam lubuk jiwanya. Pendidikan moral bukanlah pencangkokan nilai, tapi penyingkapan nilai. Pendidikan moral bukanlah penjejalan daftar perintah larangan, namun penumbuhan kesadaran untuk berperilaku layak dan bertanggung jawab sebagai manusia, makhluk yang berakal budi. Pendidikan moral bukanlah strategi memenangkan pertempuran atas lawan, tetapi penempaan cara berada yang memenangkan kemuliaan jiwa dan spiritual atas hasrat material dan dorongan irasional.

Sebetulnya istilah Aqidah Akhlak sudah sangat benar bahwa akhlak adalah manifestasi akidah. Akidah yang benar teruji atau ditunjukkan oleh akhlak yang baik. Persoalannya, kenapa pelajaran ini tampak tak berhasil mendidik generasi Islam yang berkarakter tangguh dalam moral? Sementara sumber pelajarannya tentu saja Al-Quran dan hadis. Yang paling masuk akal kenapa studi ini gagal adalah paradigma dan metodologi pendidikan akhlak yang tak sesuai dengan kodrat kemanusiaan anak didik. Itulah perlunya perubahan paradigma pendidikan moral.

Dari Mana Kita Mesti Mulai

Perubahan paradigma tentu saja menuntut banyak hal dan pekerjaan yang besar. Ada beberapa tahapan yang mesti dilakukan untuk memperkenalkan pandangan-dunia baru yang dimaksud. Yang jelas, salah satu tugas pokok tersebut adalah perlunya menggalang penelitian-penelitian ilmiah tentang manusia, mulai dari pengertian hakiki manusia itu sendiri sampai studi karakter, kodrat, sifat dan perangai manusia; dan kesemuanya itu dikerjakan secara simultan dan terstruktur yang terintegrasi dalam kajian Islam secara holistik.

Kehadiran IC-THuSI adalah sebuah jalan – dari banyak jalan lainnya – menuju pembentukan paradigma baru yang memuliakan manusia, memosisikan manusia sebagai subyek, dan mengembalikan optimisme yang tinggi terhadap kecakapan intelektual-spiritual yang bersemayam dalam akar eksistensi manusia. IC-THuSI adalah medium untuk menumbuhkembangkan perhatian para sarjana Muslim kepada problem dan isu yang sangat krusial hari ini, yang telah mengancam kemanusiaan dan peradaban.  Fokus utama IC-THuSi, sekali lagi saya katakan, bukanlah pada penyelenggaran serial seminar di kampus-kampus dengan bermuara pada konferensi internasional sebagai puncaknya, melainkan pengembangan ilmu-ilmu manusia yang mampu mengadopsi kecakapan-kecakapan luhur manusia (moral-intelektual-spiritual), yang telah dicampakkan oleh pandangan materialisme/behaviorisme dan juga dilupakan oleh sebagian umat beragama yang menuhankan syahwat kuasa (kekhalifahan dan jizyah).

Oleh karena itu, kami menerima dengan gembira paper-paper ilmiah yang mengulas karakter manusia. Seorang peneliti Sadra International Institute asal Aljazair, ustadz Abdelaziz Abbasi, akan mempresentasikan kertas kerja berjudul “Māhiyyah al-Insān wa Ĥaqīqiyyah fī-l-Qur’ānil Karīm” (Esensi dan Realitas Manusia dalam Al-Qur’an Mulia). Mengkritik pandangan behaviorisme dan materialisme, Abbasi menyuguhkan pengertian dan karakter hakiki manusia menurut Al-Quran, melalui tinjauan filsafat dan ‘irfan.  Presenter asal Bangladesh, Dr. Meen Monjur Mahmood akan mempresentasikan paper berjudul “Education and Islamic Character”. Sementara sarjana asal tanah air, Agnes Irawati MA, lulusan master tasawwuf ICAS Jakarta, akan mempresentasikan papernya “Being Present: Mindfulness for Well-Being”. Terinspirasi oleh karya Hamid Parsania, “Existence and the Fall: Spiritual Anthropology of Islam”, Agnes mencoba memahami karakter manusia dari perspektif psikologi eksistensial dengan merujuk pada tradisi spiritual dan filsafat perennial.

Dan banyak paper lainnya yang membincangkan manusia dari pelbagai perspektif dan dimensi, teoritis maupun praktis, burhani maupun irfani. Sampai ketemu di konferensi IC-THuSI pada tanggal 18-19 Nov. 2015, lima hari mendatang.

Terima kasih.